Berdasarkan referensi yang ada pada sebuah situs di Internet, secara singkat “Permission Marketing” didefinisikan sebagai suatu teknik pemasaran yang memerlukan persetujuan dari customernya. Dari beberapa referensi yang saya baca tentang definisi “Permission Marketing”, saya menarik suatu kesimpulan bahwa “Permission Marketing” adalah teknik pemasaran kepada customer setelah customer menyetujui untuk dikirimi informasi tentang produk (barang atau jasa) yang sesuai dengan keinginan atau selera dari customer tersebut.
Salah satu contoh kongkrit dari “Permission Marketing” ini adalah sebuah opsi/pilihan yang ada pada saat kita mau melakukan “sign-up” sebuah E-mail. Disana biasanya ada pertanyaan optional yaitu tentang kesukaan atau hobby. Terlebih lagi, ada juga yang langsung menawarkan untuk dikirimi penawaran – penawaran berdasarkan kategori tertentu seperti otomotif, sport, seni, dan lainnya.
Jadi kembali lagi pada pertanyaan, Mengapa “Permission Marketing” diperlukan untuk sebuah situs B2C?
Kalau menurut saya pribadi..”Permission Marketing” itu sangat diperlukan untuk sebuah situs B2C, dimana pemasaran berarti ditujukan kepada end-user. “Permission Marketing” merupakan teknik pemasaran yang efektif karena si penerima akan lebih aware dengan produk yang dipasarkan, dikarenakan produk tersebut sesuai dengan hobby atau kesukaan si penerima, atau mungkin mereka sendiri yang justru ingin dikirimi tentang produk yang mereka minta. Sebagai tambahan, “Permission Marketing” juga lebih efisien dalam hal biaya (cost-efficient). Hal ini dikarenakan customer atau calon customernya telah ter-identifikasi dan ter-target secara jelas.
Sementara dari sisi customernya, “Permission Marketing” membuat customer merasa nyaman, karena informasi yang diterimanya memang informasi yang memang telah diminta secara pribadi dari masing-masing yang bersangkutan. Jadi customer tidak akan menerima informasi yang tidak berguna. Dan apabila si penerima informasi tersebut merasa terganggu, hal ini terkadang bisa membuat si penerima membenci perusahaan yang memasarkan produk tersebut. Hal-hal seperti itu tentunya tidak diinginkan oleh perusahaan manapun.
Kesimpulannya:
“Permission Marketing” untuk B2C adalah “Win-Win Solution” untuk kedua belah pihak, baik dari Perusahaan si penjual produk maupun customernya.
- Dari sisi perusahaan penjual produk, mereka bisa fokus memasarkan produk mereka kepada orang yang memang ingin mengetahui informasi dan membeli produk tersebut. Jadi, pasti lebih efektif.
- Dari sisi Customer, mereka akan dikirimi penawaran-penawaran sesuai keinginan mereka masing-masing. Jadi mereka tidak akan menerima informasi-informasi yang tidak mereka inginkan yang tentunya cukup mengganggu, yang mungkin akan membuat si penerima menjadi “benci” dengan perusahaan yang menawarkan produk tersebut.